Melatih diri di Alam Coban Rais (1)

Melatih diri di Alam Coban Rais (1)

Assalamualaikum…

Punya hutang untuk mengulas tentang liburan akhir tahun 2017 kemarin, baru sempat tertulis hari ini karena banyaaaak banget “sesuatu” terjadi bahkan sampai awal tahun. Alhamdulillah, diawal tahun kemarin dibuka dengan si boss kecil yang harus pindah bobok di rumah sakit. Nanti selengkapnya tentang rumah sakit diulas disini ya.

Okeh, akhir tahun kemarin pada kemana aja sih ya? Niatnya emang ga kemana-mana untuk merayakan pergantian tahun. Tapi karena berbarengan dengan adik ipar yang sedang libur sekolah dan merengek minta jalan-jalan. Okelah bo! sekalian kita mencari udara segar sejenak jauh dari Surabaya.

Beberapa pilihan sempat ada, Banyuwangi, Malang Kota, Batu, Jogja, Tulungagung, dan sederet nama kota lain yang cuma asal sebut. Sebenarnya mau kemana sih? pilih punya pilih, ternyata si adik ipar – yang punya niat jalan-jalan – minta diantarkan ke Coban Rais yang katanya spot fotonya cantik-cantik. Tujuan sudah dipilih.

Berangkat setelah libur natal dan hari kerja, saya pikir agak sedikit lengang dijalanan, meski bukan lengang banget karena menyadari masih musim liburan. Perjalanan pagi hari jam 6 dari rumah ternyata harus diawali dengan nge-ban dulu. Hiks, setelah di cek ban mobilnya meletek (apalah bahasanya) sehingga kurang aman apalagi akan dibawa ke daerah dengan banyak tanjakannya. Pukul 7 lebih sedikit, nge-ban udah, isi bensin udah, yuk sekarang lanjutttt. Perjalanan ini begitu asyik sampai dengan masuk kawasan Lawang. Selamat datang di kemacetan Malang. Total perjalanan kami sekitar hampir 6 jam Surabaya-Kota Batu.

 Langsung masuk kawasan Coban Rais di Batu Malang, kami harus membayar tiket masuk sebesar idr 80.000 untuk 7 orang plus 1 mobil. Wah, cukup terjangkau ya. Setelah mencari lokasi parkir dan mempersiapkan segala keperluan di dalam tas, kita memulai petualangan dengan membaca peta terlebih dahulu. Hmmm… kebanyakan wisata poto-poto doang nih, gerutu dalam hati. Tapi ya sudahlah ya, udah nyampe juga dinikmati aja. Berjalan menuju area 1, ternyata disini juga ditawarkan fasilitas ojek bagi teman-teman yang gak kuat jalan. Jadi jangan takut kurusan ya, hehehe….

Jarak tempuh ojek – yang saya kira perlu ojek karena juaaauuuhhh- ternyata cuma seuplik dengan tarif 10 rebu, asyeem… Turun ojek, lihat kanan-kiri, sekeliling area spot foto buatan yang sebenarnya ciamik, tapi tentu saja semua bertarif. Foto disini 10 rebu, foto disana 15 rebu, dan belum pula antri yang gak karuan membuat saya dan suami ogah untuk ikutan. Biarin deh, adik dan keluarga yang lain antri deeh sanaaaa, kita mau melanjutkan jalan-jalan. Sampai ditikungan ada sebuah banner dengan tulisan “Air Terjun Coban Rais” dan sebuah pangkalan ojek motor trail. Wah, ada air terjun nih, tapi pake ojek juga kah kesananya? Iseng kita lanjutkan jalan kakinya, memasuki sebuah areal perhutanan dan bertemu dengan bapak-bapak yang menggendong anaknya dan kami pun bertanya, “Air terjunnya jauh pak?” dijawab dengan enteng, “Masih sejam lagi mas kalau jalan kaki.” Ow, eng ing eng… Yuk lanjut, kayaknya seru tuh didepan mata kita.

Saya, suami, dan boss kecil yang selalu dalam gendongan suami untuk meyusuri jalanan setapak memasuki hutan mencari lokasi air terjun. Bukan tidak membolehkan boss kecil turut jalan, tapi jalanan setapak ini benar-benar cukup untuk 1 orang dengan kondisi jalan yang sebelah kiri jurang, sebelah kanan ada aliran air bersih. Lebih aman dan nyaman, karena kita juga belum mengetahui kondisi hutan tersebut, oke boss kecil digendong bapaknya untuk perjalanan kali ini.

Awal perjalanan masih begini ya gendongnya. Guaya….

1.jpeg Itu masih seger karena awal perjalanan, hmm,gak nyangka spot wisata foto-foto tapi punya air terjun yang masih asri banget. Lanjut perjalanan lah, masih dengan menggendong boss kecil dan saya bertindak sebagai fotografernya.

Foto ini kira-kira di sepersepuluh perjalanan kita, hehehe….

2

Maafkan foto dengan kamera seadanya sehingga ga bening kayak kamera kebanyakan. Tapi masih okelah untuk mengabadikan moment.

Sekeliling masih asri banget kan ya, hutannya masih lebat. Jujur, saya gak gimana gitu ketika ketinggalan dari pak suami yang berjalan didepan. Meskipun menggendong boss kecil, tapi pak suami dengan sepatunya bisa berjalan sangat cepat. Apalah saya yang pakai sandal kota. Gak nyangka banget kan kalau Coban Rais punya ginian, kirain wisata keluarga aja.

3

Ikuti panah, jangan salah jalan ya…

4

Melewati jembatan…

6

Semakin masuk kedalam kayaknya kita seperti masuk ke hutan yang masih asri. Diperjalanan untuk dapat mengusir rasa capek, saya dan suami selalu bercerita. “Mas ini kenapa hutannya masih asri banget ya. Biasanya wisata air terjun justru malah hutannya dipangkasi, terus buatkan semacam jalur khusus yang di semen agar pengunjung bisa jalan dengan baik.”

Si mas pun menjawab, “Enak gini dong, alamnya masih kejaga.”

Bener juga sih…. hehehe… Lama udah gak pernah trekking gunung maupun ikutan kemping kecil-kecilan, saya mulai ngos-ngosan. Tapi lihat suami dan boss kecil semangat, masa iya mak nya kendoooorrr…

7

Sepanjang perjalanan, kondisi jalannya begini. Ada yang lebih parah dengan jalan licin dan becek. Nanti mungkin akan diulas di part 2 ya.

8

Be a good traveler. Sampai jumpa di part 2 ya…

Satu pemikiran pada “Melatih diri di Alam Coban Rais (1)”

Tinggalkan Balasan