Melatih Diri di Alam Coban Rais (2)

Hai! Akhirnya bisa nulis yang part kedua ini meskipun lagi meler kesana kemari. haattchhiiuuu…

Melatih diri di alam Coban Rais Part 2 ya, bagi yang belum baca part 1 bisa klik disini.

11

Yaaaakkk…. Dibuka dengan foto ini. hehe… Jalanannya menuju Coban Rais Waterfall alias air terjunnya masih begini juga ya. Itu si Ayah masih kuat nggendong boss kecil di punggung belakangnya. Kalau dilihat, mungkin memang jalanan ke air terjun ini masih dibiarkan alami seperti ini, karena kontras banget dengan depannya alam coba rais buatan yang udah disulap menjadi spot foto yang cantik cantik itu.

Jalanan penuh bebatuan, jujur, saya yang lama gak jalan-jalan ala gunung dan berubah menjadi emak-emak mall cukup gempor juga disini. huhahahahahaha…. 😀

16

Suasananya masih hutan asri ya, Mas dan boss kecil jalannya cepet banget, jadi saya suka manggil-manggil dari kejauhan biar gak terlalu ketinggalan. Sepanjang perjalanan, kita engga terlalu sering bertemu atau berpapasan dengan orang lain. Jadi merasa berjalan di hutan cuma bertiga, kalau begitu pasti akan kerasa banget kan kalau perjalanan ini ga sampe-sampe, saya dan suami langsung kompak untuk mengobrol di sepanjang perjalanan. Kami mengobrol tentang banyak hal, apapun untuk mengusir kebosanan dan -kadang- rasa sedikit ketakutan karena hanya bertiga jalan dihutan.

13

Engga hanya jalan setapak yang penuh bebatuan, kami juga menemui jembatan bambu ini. Aaaahhh mungkin bagi temen-temen ngerasa jembatan ini masih biasa banget dilalui karena datar dan ada pegangan disampingnya. Tapi coba dengan jembatan ini…..

18

Awalnya mules juga lihat nih jembatan, secara karena saya pribadi termasuk orang yang kurang memiliki keseimbangan tubuh. Rasanya pengen kembali ke wisata buatannya aja deh ya, tapi sayang banget udah lebih dari separuh perjalanan, dan semangat dari mereka berdua -yang masih sempet minta difotoin diatas jembatan- yang mebuat saya masih terus melaju. Cukup terseok-seok saya, mungkin salah satunya karena sandal yang saya gunakan. Ceritanya saya bener-bener ga nyangka kalau Coban Rais ada wisata alamnya seperti ini, karena itulah saya lalu berpikir pakai sandal rumahan yang murce merice aja pasti gapapalah, naaaaaahh ternyata itu justru musibah bagi saya. Jalan terjal bebatuan, melewati sungai dan jembatan bambu itu, dan jalan berlumpur! Inilah jadinya penampakan sandal saya yang akhirnya terpaksa saya tinggalkan disana (maaf ya, bukan bermaksud buang sampah sembarangan).

20

Bagian bawah sandal udah penuh dengan lumpur, terpaksa saya tinggalkan karena udah ga bisa dipake (bagian bawahnya mangap kebanyakan makan lumpur) dan mau dibawa tapi tangan udah gak muat (satu buat pegangan kalau2 nemu jembatan gituan lagi, dan satu buat bawa botol minum). Tips banget: Travelling kemanapun, baiknya pakai sandal sepatu yang cocok disegala medan ya. hihihihi….

Oke, hampir putus asa, melihat kondisi jalan yang seperti itu, tapi kemudian kami berpikir bagaimana dengan yang naik ojek? Memang untuk menuju air terjun ini, pengelola wisata Coban Rais menyediakan ojek yang menggunakan motor trail khusus dengan tarif 25.000 per perjalanan, jadi bukan pulang-pergi ya. Ternyata rute yang dimiliki pejalan kaki dan pak ojek berbeda, namun tetap saja, ojek tidak dapat mengantar sampai depan air terjun pas. Kita masih diharuskan berjalan beberapa puluh meter dan masih harus melewati berbagai rintangan seperti jembatan bambu tanpa pegangan tadi.

Salah satu yang membuat saya semakin semangat berjalan adalah ketika kita bertemu dengan pejalan kaki yang lain. Mungkin kalian pikir yang berjalan adalah anak-anak muda iseng, pasangan orang tua irit biaya ojek (apa kita termasuk ya? hihihi), atau pecinta alam. Ternyata engga juga! Seringkali kami menemui rombongan orang-orang Chinese (maaf banget nyebut kayak gini, biar jelas aja gitu) yang saya kira mereka pasti manja karena memiliki kecukupan uang -trus maunya pakai ojek aja-, ternyata malah mereka memilih jalan kaki bersama anak-anaknya. Wah, mungkin ini salah satu tips ketangguhan mereka dalam berbisnis ya. Ini nih yang membuat saya malu untuk kendorin semangat, ayoooo jalan teruuusss…

Dari kejauhan mulai terdengar suara deru derasnya air, aah, pertanda apakah ini?

21

Surgaaaa…. oh, bukan! hehehe….

Dari kejauhan udah tampak air terjunnya. Ini yang kemudian semangat saya terus terpacu. Tinggal berapa meter lagi nih, dalam hati.

Wisata air terjunnya Coban Rais dapat dibilang cukup sepi dibandingkan dengan wisata air terjunnya yang lainnya. Mungkin karena kondisi medannya yang bikin alis jadi nyerngit gitu ya. Tapi suer deh, dengan kondisi medan yang kayak gini, lebih seru dibandingkan yang jalannya udah rapi karena disemen. Pengalamannya akan beda banget.

23

Surga dari kejauhan, masih semangat karena saya jauh ketinggalan dengan mereka berdua yang pastinya udah main air.

26

Ujung-ujungnya berdua minta foto, -_____-“

Ini nih kalau jadi fotografer ayah dan anak, emaknya ga ada yang mau motoin. Asik aja mereka berdua main air setelah foto-fotoan begini. Ya nasiiibbb…

Oke, 2 part ini adalah bagian dari cerita jalan-jalan kami ke Coban Rais , sebuah wisata di Kota Batu. Senangya ketika sudha melihat air terjun ini tapi masih mikir jalan pulangnya begitu lagiiii.

Terimakasih udah baca, like, dan komen. Yang mau di guide-in kesini boleh daftar ye.. hehehe… Tunggu kisah-kisah kami selanjutnya ya…

Tinggalkan Balasan