Resensi Novel : Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991

Resensi Novel : Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991

Hello!

Tulisan ini sebagai tanda selamat datang kembali pada Laptopku yang baru sembuh… Sehat-sehat ya, jangan sampai ganti merk dulu.. hehe…

Menyelesaikan dengan cepat bacaan novel kedua dari 3 novel yang berkisah tentang Dilan dan Milea. Kesannya apa? Nyesel Berat! hah?

Nyesel banget udah baca karena tidak happy ending. Gak suka harus sedih-sedihan karena Dilan dan Milea harus pisah hanya karena perkara yang tidak cukup serius. Sebel karena dua-duanya masih menunggu, tapi membiarkan waktu memisahkan mereka. Namun, sudahlah… Dilan dan Milea tahu, Cinta tak harus memiliki. “Kamunya ada di bumi saja aku sudah senang..” Itulah kutipan kata dari Dilan.

dilan 1991

Dari sampul buku saja sudah menggambarkan bagaimana kisah yang bercerita didalamnya. Pasti mengandung lebih banyak dramanya. Dibuku kedua ini, selayaknya dibag menjadi 2, setengah buku pertama kamu akan disuguhi drama manis tentang perjalanan cinta Dilan dan Miles yang meskipun akhirnya harus beda sekolah karena Dilan di keluarkan dari sekolah. Sedangkan pada setengah buku berikutnya akan membahas drama kepedihan dari cerita putus keduanya.

Selain menyuguhkan drama cinta kedua, di buku kedua dari Seri Dilan dan Milea ini juga banyak mengisahkan kenakalan Dilan bersama geng motornya, itu pula salah satu yang menyebabkan keduanya harus putus dalam percintaan. Yap, Milea yang tidak ingin Dilan terlibat lebih jauh dengan geng motornya, dan Dilan tak ingin dirinya terlalu terkekang oleh Milea. Sebenarnya permasalahan yang cukup simpel, namun menjadi pelik karena keduanya justru menjadi diam dan tidak menyelesaikan masalah. Itulah yang kemudian menjadi rasa gemas pada bagian novel bagian kedua ini.

Dalam Dilan 1991 ini, ada beberapa tokoh baru yang muncul, seperti Yugo, sepupu Milea, Risa, saudara jauh dari Dilan yang datang ke Bandung, Ayah Dilan, yang tergambarkan galak dan tegas tapi sangat sayang kepada anak-anaknya termasuk pada Milea yang dianggap sebagai calon menantu.

Dilan mengalami banyak permasalahan pada novel kedua ini, seperti dikeroyok leh gerombolan orang yang disebutnya sebagai agen CIA, tertangkap polisi karena kedapatan akan menyerang seseorang dan membawa pistol miliki ayahnya! Lalu ada pula kisah tentang rasa kehilangan Dilan terhadap salah satu temannya yang meninggal, juga karena dikeroyok orang tak dikenal, yaitu Akew. Hal-hal itu yang membuat Milea nampaknya sangat khawatir pada Dilan, namun sayangnya kekhawatiran itu justru menjauhkan dari Dilan.

Petualangan Dilan pun berlanjut seusai masa SMA, Dilan pergi ke Jogjakarta untuk mendaftar kuliah dan menenangkan diri, sedang Milea lolos umptn di Jakarta. Semakin jauh terlihat, tapi yakin kedua hati mereka masih memanggil satu sama lain. Dimana? Rindu… Hingga tanpa terasa Bandung menjadi hanya kisah bagi mereka. Dan satu sama lain pun menemukan pendamping masing-masing, tapi selalu masih menyimpan rindu keduanya.

a7fc93de863aef7cd520cb4778a11fca

Jadi tidak sabar menantikan visualisasi dari Dilan 1991. Pasti lebih banyak menguras emosi.  Finally, kisah yang apik disajikan, bahasanya unik khas Dilan, kisah yang diangkat sebenarnya sederhana namun dapat diramu menjadi novel best seller. Sukses Ayah Pidi Baiq!

 

Tinggalkan Balasan