Belajar menjadi Peneliti: Part 2. Penelitian Literasi Anak Usia Dini

Assalamualaikum semua, senang rasanya bisa kembali berbagi cerita disela-sela beberapa kegiatan yang cukup menyita waktu. Bukan sok sibuk sih, tapi benar adanya menyita perhatian agar bisa tetap fokus menjalankan tugas disambi kegiatan les dan bermain bersama Royyan.

Syukur Alhamdulillah, tahun 2018 ini saya masih dipercaya untuk mengasisteni penelitian ini. Part 1 nya bisa dibaca disini ya. Part 1.

Ini adalah tahun terakhir untuk penelitian literasi ini, karena tahun depan dosen saya yang memerlukan penelitian ini sudah harus masuk pada meja sidang dan lulus untuk menyandang gelar doktoral dari Universiteit Twente, Belanda. Tak banyak yang berubah dari penelitian tahun lalu ke tahun ini. Hanya saja, ada yang perlu disesuai dengan apa yang diinginkan supervisor peneliti dari universitas tersebut. Apa yang diubah seperti jumlah lesson, jumlah tes, bentuk tes, dan sebagainya. Alhamdulillahnya adalah saya bisa mempelajari berbagai macam bentuk tes internasional untuk anak usia dini. Seru kan?

Apa saja yang berubah dari penelitian tahun ini? 

yang pertama adalah jumlah lessonnya. Materinya tetap sama, hanya saja berkurang temanya. Dari 6 tema yang dulu disajikan, kami mengeliminasi 2 tema, sehingga ada 4 tema tersisa yang harus kami persiapkan  medianya. Tema-tema tersebut adalah

  1. My Name : Kegiatannya menebali kartu nama yang menggunakan trace font (garis putus-putus gitu).
  2. My Body : Kegiatannya adalah mengukur berat badan dan tinggi badan. Siswanya senang banget ketika mereka harus antri satu persatu mengukur berat dan tinggi badan mereka. Kelas jadii hebooooohhhh!
  3. My Friend : Kegiatannya nih menempel nama mereka yag kami tulis dikertas dan digunting menyerupai daun. Menempelnya di papan yang telah kami sulap bagai taman bunga dengan huruf alpabet disetiap bunganya. Siswa diajak untuk mengenali nama sendiri dan teman-temannya lewat kegiatan tempel menempel.
  4. My Birthday : Lesson terakhir ini awalnya agak kacau, kami bertiga salah paham tentang siapa yang harusnya membeli bahan. Wah, hampur saja lesson ini gagal di satu kelas kemudian kami siasati dengan berbagai cara. Sedikit pengobat kami adalah suksesnya di kelas kedua yang lebih terencana. Roti-roti yang kami sajikan untuk anak-anaknya nyaris ludes hanya menyisakan beberapa potong saja. Ohya, di lesson terakhir ini kami mengajarkan siswa untuk mengetahui tanggal lahir mereka lewat kegiatan menempel lilin di papan cupcake!

Dari Pre test tidak ada perubahan dari tahun lalu, penambahan test ada di post test. Biasanya kami hanya menilai 2 test, kali ini kami menilai siswa melalui 5 rangkaian test yang terbagi dari 3 tipe, Story Telling, Digital Literasy, dan Literasy. Dan juga saya baru belajar mengenai test pra baca (ternyata ada! dan skala internasional) yang ternyata lebih penting dari tes calistung. Beberapa test yang kami gunakan salah satunya adalah GRTR (Get Ready To Read), yang berisi 20 pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa.

Serangkaian post test masih kami jalani saat ini di kelas eksperimen maupun kelas kontrol yang ada. Kapan-kapan kami sambung yang part 3 ya!

Sebelum diakhiri, klik www.skulaedu.net ya untuk beragam artikel dan informasi bidang pendidikan.

Tinggalkan Balasan