Memberikan Teladan Terbaik bagi Anak : Berbagi Pengalaman Menjadi Seorang Ibu

Anak adalah Peniru Terbaik, maka Berikanlah Contoh Terbaik untuknya. ~Mutiara

Benar adanya jika anak adalah peniru ulung yang baik. Usia emas, perkembangan otak, dan ketidaktahuannya tentang banyak hal didunia ini membuatnya menyerap banyak informasi dari dunia sekitarnya. Ya benar, sekitarnya bisa saja orang tua, lingkungan rumah, atau lingkungan sekolah. Peniruan ini bisa saja berlangsung dengan cepat, atau bahkan ada yang mengendap selama beberapa saat lalu kemudian di tunjukkannya. Mungkin waktu itu otaknya masih memproses, apa maksud dari ini itu, dan baru ditunjukkan setelah ia memahaminya. Oleh karena itu, pentingnya bagi kita yang memiliki atau berada di sekitar anak yang masih dalam tahapan ini untuk memberikan contoh sebanyak-banyaknya. Tentu saja contoh yang baik ya, yang bisa dia jadikan teladan sehingga nantinya diharapkan bisa menjadi karakter yang melekat pada diri anak.

“Sebenarnya, tak ada yang salah dengan perilaku meniru, karena pada dasarnya meniru adalah proses pembelajaran alami semua makhluk hidup,” Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, MHPEd

Dari proses meniru ini, anak belajar. Belajar bagaimana berucap, bagaimana bersikap, bagaimana cara makan, dan masih banyak lagi. Dari sikap peniruan itulah anak tahu bagaimana menjadi “hidup” sesungguhnya. Maka tak heran bila ada anak yang terlahir tuli bisa juga menjadi bisu. Bukan karena ia tak memiliki pita suara untuk dapat berbicara, karena si anak tidak mendapatkan contoh bagaimana berkata-kata.

Bicara tentang teladan, saya teringat akan kejadian semalam. Sebelumnya saya banyak membaca informasi tentang baiknya meminta maaf dan memaafkan sebelum tidur. Oke, saya terapkan pada dalam anak beberapa hari. Sebelum tidur, sebelum membaca doa, saya biasakan untuk meminta maaf padanya terlebih dahulu. Maaf untuk apa? maaf karena hari ini mungkin ibu banyak memarahimu, tapi sesungguhnya karena ibu sayang, dan Royyan harus jadi anak yang baik. Begitu kira-kira kata saya, dan disertai tentang cerita bagaimana anak yang baik tentu saja. Saya terapkan kebiasaan ini dalam beberapa hari, dan semalam saya takjub! 
Apa yang membuat saya takjub? Bahkan sebelum saya mengucapkan maaf saya, terlebih dahulu dia meminta maaf dengan kata-katanya yang sederhana. “Buk, Royyan minta maaf ya kalau Royyan marah sama Ibuk.”

"Buk, Royyan minta maaf ya kalau Royyan marah sama Ibuk." Saya tertegun. -Mutiara, Ibu dari Royyan (3y7m)​

Saya diam untuk beberapa detik, kemudian saya memeluknya dan berujar juga, “Iyaaa Royyan, maafin ibuk juga ya!” Kami akhirnya tertawa bersama. Dann seperti malam-malam sebelumnya, kami mengakhiri malam dengan banyak bercerita. Cerita apa saja tentang yang Royyan alami hari ini, atau apa yang dia tonton, bisa tentang MC Queen, Oddbodds, teman sekolahnya yang bisa berkata bohong, dan masih banyak lagi. Selalu menyenangkan menutup malam bersamanya. Dan tentu saja doa tidur mengakhiri semua cerita. Nyenyaklah tidur cahaya hatiku….

Keteladanan Berkata-kata

Keteladanan dalam berkata-kata atau berbicara. Ini adalah hal yang sangat saya perhatikan. Saya pun mewanti-wanti pada diri sendiri, bagaimana pun capeknya, kesalnya, marahnya, suntuknya, atau apapun yang ibu alami dalam keseharian (entah bersama anak, suami, atau ada orang yang menguji kesabaran) hendaknya bisa menahan untuk tidak berucap kasar, jelek, atau apapunlah. Ini nih yang agak susah, bagaimana bisa seorang yang sedang emosi harus bisa tetap memilih kata-kata yang baik? Tentu kalau bukan karena latihan dan pembiasaan sejak lama, ini hampir mustahil terjadi.

Pasti semua ingat akan cerita tentang masa kecil Syekh Sudais. Beliau adalah Imam besar Masjidil Haram, yang ternyata memiliki masa kecil “mbethik”, itu saya meminjam istilah Jawa. Saya agak anti menyebut nakal pada anak, paling banter saya bilang bandel yang mana dalam kacamata saya bandel itu seperti di cuci tidak basah, dibakar tidak hangus. Yaaa begitulah, anak yang unik. Jadi bandel itu = perilaku unik gitu ya. Syekh Sudais kecil yang pernah menaburkan pasir kedalam makanan yang telah disajikan ibunya pada tamu, membuat sang ibu tentu saja marah. Namun, yang unik adalah cara ibu Syekh Sudais dalam marahnya adalah menyebutkan “pergi sana, awas kamu nanti kalau sudah besar menjadi Imam Masjidil Haram!” Begitulah kata-kata ibunya yang saya yakin ketika itu jengkel bukan kepalang karena makanan bertabur pasir tersebut. Dan, nyatanya saat ini anak “mbethik” tersebut telah menjadi Syekh di Masjidil Haram. Persis seperti ujaran sang Ibu ketika marah saat beliau masih kecil.

Cerita itu yang kemudian saya jadikan acuan ketika bersama Royyan, entah hal unik apa yang dia lakukan, saya berusaha untuk memberikan kata-kata yang baik. Begitupun ketika marah, saya dahulukan berucap Astagfirullah, Ya Allah, dari kata-kata lain yang pastinya mengandung sedikit emosi. Berulang kali saya ucapkan begitu dihadapannya. Dan benar saja, Alhamdulillah, anak adalah peniru ulung yang baik. Beberapa kali saya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Royyan ketika ia sedang kesal dengan orang lain atau dengan mainannya. “Ya Allah Ibuuuukkk…” atau “Astagfirullah Ibukkkk” .
Lucu ya? Begitulah anak-anak.

Keteladanan Bersikap

Cerita tentang keteladanan bersikap sebenarnya sudah sedikit saya jabarkan di awal cerita. Namun tak apalah, kita cari contoh baru sehingga akan banyak pengalaman yang dibagi. Mungkin saja ini juga bisa jadi referensi bagi ibu muda lainnya. 

“Astagfirullah Royyan! kenapa sampah jajannya ga dibuang langsung?” Saya sedikit ketus saat melihat sampah bekas jajan si Royyan berserakan kemana-mana. Oh my God, kan baru saja disapu! Batin saya. Royyan, si anak yang sedang saya omeli itu hanya nyengir. Yaaah, nyengir saja sambil berlalu dan berujar, itu sudah habis buk! Ya kale nak, habis makanya dibuang ditempat sampah. 

Beberapa kali saya menemui kejadian seperti itu. Entah tentang sampai yang tidak dibuang, atau mainan yang tidak dibereskan, dan masih banyak lainnya yang membuat darah ini jadi naik turun menghadapi anak ini. Mau mengomel? Silakan jika anda tidak sayang dengan mulut anda. Namun tetap saja mau diomeli 1 menit, 10 menit, sejam, dua jam, anak ini tidak akan berubah. Tetap saja dia akan membiarkan bungkus jajan, kulit pisang, kotak susu, sampai dirubungi semut. Hiyyyaaaa…. Oke, saatnya mamak memutar otak, bagaimana agar anak ini dapat melakukan perintah tanpa harus menghabiskan banyak tenaga untuk cuap-cuap. 

Suatu hari saya dan Royyan makan jajanan ringan bersama-sama. Kami makan dengan ceria, sambil bercerita tentang apa saja cerita yang keluar dari mulutnya, sangat mengasyikkan. Dan tibalah saat dimana jajan ini telah habis, langsung saya bilang padanya,”Wah makanan ibuk sudah habis, kalau habis ini bungkusnya buangnya disini ya!” Saya berucap sambil melangkahkan kaki menuju tempat sampah. Royyan terdiam untuk beberapa saat, reaksi yang pertama adalah diam dan tetap tidak membuang sampah. Okelah, saya akan coba lagi. Berulang kali saya mencoba metode ini. Alhamdulillah, kini Royyan bahkan membuang sampah sebelum saya menyuruhnya. Memang tidak disemua tempat ya, terkadang dia masih malas atau malu-malu ketika ditempat baru. Namun saya tetap mengapresiasinya. Ini langkah bagus baginya. 

Saya menemukan video yang bagus di YouTube. Monggo diklik sebagai tambahan pengetahuan tentang memberikan keteladanan pada anak. 

Memberi contoh adalah tugas pertama bagi orang tua. Ya, karena orang tua adalah sekolah pertama bagi anak. Di lingkungan keluargalah anak mengenal baik buruk perilaku. Mari bersama-sama menjadi orang tua yang baik bagi anak.

referensi 

www.parenting.co.id

Tinggalkan Balasan

Go Top